ARAFAH MELAHIRKAN ORANG-ORANG YANG TERBEBAS DARI NERAKA
Oleh
Ustadz Anas Burhanuddin, MA
KEUTAMAAN HARI ARAFAH
Hari Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah setiap
tahun merupakan salah satu hari yang paling utama sepanjang tahun. Bahkan dalam
madzhab Syâfi’i disebutkan bahwa jika ada orang yang mengatakan, ‘Isteri saya
jatuh talak pada hari paling utama’, maka talak tersebut jatuh pada hari
Arafah.[1] Keistimewaan hari ini berdasarkan pada dalil umum dan khusus.
Dalil umum yaitu hadits Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu bahwa
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى
اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ». فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ
الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ
رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ”.
Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih
dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada hari–hari yang sepuluh ini”. Para sahabat
bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allâh ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allâh, kecuali orang yang keluar
mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatupun.” [HR
al-Bukhâri no. 969 dan at-Tirmidzi no. 757, dan lafazh ini adalah lafazh
riwayat at-Tirmidzi]
Maksudnya adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang
merupakan rangkaian hari paling utama sepanjang tahun. Hadits ini menunjukkan
disyariatkannya memperbanyak amal saleh di sepuluh hari pertama bulan
Dzulhijjah, dan hari Arafah termasuk di dalamnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
rahimahullah mengatakan, “Siang hari sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah
lebih utama daripada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhân, dan malam sepuluh
hari terakhir Ramadhan lebih utama daripada malam sepuluh hari pertama
Dzulhijjah.” [2]
Adapun dalil khusus yang menunjukkan keistimewaan hari
Arafah di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Di hari ini Allâh Azza wa Jalla paling banyak membebaskan
manusia dari neraka. Ibunda kaum mukminin, Aisyah Radhiyallahu anhuma
meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا
مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ
فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟
Tidak ada hari di mana Allâh Azza wa Jalla membebaskan hamba
dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu
membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka
inginkan?” [HR. Muslim no. 1348]
Maksudnya, tidak ada yang mendorong mereka untuk
meninggalkan negeri, keluarga dan kenikmatan mereka (untuk menunaikan ibadah
haji-red) kecuali ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan pencarian ridhanya.
[3]
2. Doa di hari Arafah adalah doa terbaik. Abdullah bin Amr
Radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabda
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
خَيْرُ الدُّعاءِ دُعاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ
أَناَ وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik
ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah La ilaha illallah
wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin
qadir.” [HR. at-Tirmidzi no. 3585, dihukumi shahih oleh al-Albani]
3. Wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling pokok.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh sekelompok orang dari
Nejed tentang haji, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :
الْحَجُّ عَرَفَةُ
Haji itu adalah Arafah. [HR. at-Tirmidzi no. 889, an-Nasâ’i
no. 3016 dan Ibnu Mâjah no. 3015 , dihukumi shahih oleh al-Albâni]
Maksud hadits ini adalah bahwa wukuf di Arafah merupakan
tiang haji dan rukunnya yang terpenting. Barang siapa meninggalkannya, maka
hajinya batal, dan barangsiapa melakukannya, maka telah aman hajinya.[4]
4. Puasa di hari Arafah memiliki keutamaan yang besar. Puasa
sehari ini menghapuskan dosa dua tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu
Qatâdah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ
السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
Puasa hari Arafah aku harapkan dari Allâh bisa menghapuskan
dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. [HR. Muslim no. 1162]
5. Imam Mâlik rahimahullah meriwayatkan dalam al-Muwatha’
no. 944 dengan sanad yang lemah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadits
berikut :
مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلاَ أَدْحَرُ
وَلاَ أَحْقَرُ وَلاَ أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا
رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ
إِلَّا مَا أُرِيَ يَوْمَ بَدْرٍ
Tidaklah setan pernah terlihat lebih kerdil, terjauhkan,
hina dan marah daripada saat hari Arafah, dan itu tidak lain karena ia melihat
turunnya rahmat dan pengampunan Allâh atas dosa-dosa besar, kecuali apa yang ia
lihat saat Perang Badar.
Demikianlah, dalil-dalil ini cukup untuk menunjukkan
keistimewaan hari Arafah. Tidak hanya untuk para jamaah haji yang di hari itu
memiliki agenda wukuf di Arafah, kaum Muslimin yang lain juga memiliki kesempatan
yang sama untuk mendulang pahala dan ampunan dari Sang Maha Pengampun. Semoga
Allâh Azza wa Jalla memberikan karunia-Nya kepada kita.
IBADAH YANG DISYARIATKAN UNTUK JAMAAH HAJI SELAMA DI ARAFAH
Setiap tahun ada orang-orang yang terpilih untuk menunaikan
ibadah haji. Di zaman sekarang, jutaan umat Islam berkumpul di Padang Arafah
tiap tahunnya. Sebuah kenikmatan yang sungguh agung. Sebagai wujud syukur
kepada Allâh al-Mannan, sudah sepantasnya para jamaah haji mengisi hari mulia
ini dengan sebaik mungkin sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam . Berikut ini adalah penjelasan tentang amalan hari Arafah beserta
dalilnya.
1. Setelah menjalankan sunnah bermalam di Mina pada hari
tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah) dan melakukan shalat lima waktu di sana, para
jamaah haji disunnahkan untuk menuju Arafah begitu matahari terbit pada tanggal
9 Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan penjelasan Jâbir bin Abdillah Radhiyallahu
anhu :
فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ تَوَجَّهُوا إِلَى مِنًى فَأَهَلُّوا
بِالْحَجِّ وَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَصَلَّى بِهَا الظُّهْرَ
وَالْعَصْرَ وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ ثُمَّ مَكَثَ قَلِيلاً حَتَّى
طَلَعَتِ الشَّمْسُ
Maka pada hari tarwiyah mereka berangkat menuju Mina
bertalbiyah haji, dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki
kendaraan lalu shalat di sana Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh, kemudian
menunggu sebentar sampai matahari terbit. [HR. Muslim no. 1218]
2. Saat menuju Arafah disunnahkan memperbanyak talbiyah dan
takbir. Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma meriwayatkan :
غَدَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ مِنًى
إِلَى عَرَفَاتٍ مِنَّا الْمُلَبِّى وَمِنَّا الْمُكَبِّرُ.
Kami berangkat di waktu pagi bersama Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam dari Mina ke Arafah, di antara kami ada yang bertalbiyah dan
ada yang bertakbir. [HR. Muslim no. 1284]
3. Setibanya di Arafah, para jamaah haji bisa langsung
menempati tempat mereka. Harus dipastikan bahwa tempat yang akan dipakai wukuf
merupakan bagian dari Arafah, karena jika wukuf di luar Arafah, wukuf kita
tidak sah. Sementara wukuf adalah rukun haji dan tidak bisa digantikan dengan
dam atau sejenisnya. Jubair bin Muth’im Radhiyallahu anhu meriwayatkan dari
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam :
كُلُّ عَرَفَاتٍ مَوْقِفٌ وَارْفَعُوا عَنْ بَطْنِ عُرَنَةَ
Seluruh Arafah adalah tempat wukuf, dan jauhilah tengah
lembah ‘Uranah [HR. Ahmad no. 16.797, dihukumi shahih oleh al-Albâni dan Syuaib
al-Arnauth]
‘Uranah adalah sebuah lembah (wadi) yang terletak di dekat
Masjid Namirah dari arah Makkah dan tempat itu bukan bagian dari Arafah.[5]
Hadits ini menunjukkan bahwa jamaah haji harus memastikan
bahwa tempat wukuf mereka termasuk wilayah Arafah. Saat ini, batas Arafah
ditandai dengan papan-papan besar dan tinggi yang bisa dilihat dari jauh.
4. Waktu wukuf dimulai saat tiba waktu Zhuhur dan selesai
dengan terbitnya fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Jadi, orang yang tidak dimudahkan
untuk wukuf di siang hari, masih bisa melakukannya di malam hari, dan wukufnya
sah.[6]
Bagi jamaah haji yang terpaksa harus masuk Arafah sejak
tanggal 8 Dzulhijjah, seperti sebagian besar jamah haji Indonesia, mereka bisa
langsung bersiap wukuf sebelum waktu Zhuhur di tenda masing-masing.
5. Begitu waktu Zhuhur tiba, disunnahkan untuk melakukan
shalat Zhuhur dan Ashar dengan cara jama’ dan qashar, masing-masing dua rekaat
di awal waktu shalat Zhuhur, dengan satu adzan dan dua iqamah sebagaimana
disebutkan dalam hadits Jabir Radhiyallahu anhu berikut:
ثُمَّ أَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ أَقَامَ
فَصَلَّى الْعَصْرَ وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا
Kemudian (Bilal) mengumandangkan adzan lalu iqamah, maka
(Rasûlullâh) shalat Zhuhur. Kemudian (Bilal) mengumandangkan iqâmah , maka
Rasûlullâh shalat Ashar dan tidak melakukan shalat apapun di antara keduanya.
[HR. Muslim no. 1284]
Hikmahnya adalah agar setelah itu kita bisa memiliki waktu
yang luas untuk berdoa dan berdzikir, karena saat itu adalah waktu terbaik
untuk berdoa.[7]
6. Sebelum shalat Zhuhur, disunnahkan bagi imam untuk
menyampaikan khutbah tentang agama secara umum dan penjelasan tentang
amalan-amalan haji yang masih tersisa, sebagaimana dicontohkan Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam hadits Jâbir Radhiyallahu anhu ini :
حَتَّى إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ أَمَرَ بِالْقَصْوَاءِ فَرُحِلَتْ
لَهُ فَأَتَى بَطْنَ الْوَادِى فَخَطَبَ النَّاسَ
Sehingga saat matahari tergelincir, Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam memerintahkan agar unta al-Qashwa’ disiapkan, maka ia pun dipasangi
pelana, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tengah lembah
(Wadi ‘Uranah) dan berkhutbah. [HR. Muslim no. 1284]
7. Saat di Arafah, sebaiknya para jamaah haji tidak
berpuasa, sebagaimana dicontohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
hadits Ummul Fadhl Radhiyallahu anhuma berikut :
عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا
عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ
إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ
Dari Ummul Fadhl binti al-Hârits Radhiyallahu anhuma bahwa
orang-orang berselisih di dekatnya tentang puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam . Sebagian mereka berkata bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
puasa, dan sebagian lagi mengatakan tidak. Maka Ummul Fadhl Radhiyallahu anhuma
mengirimkan secangkir susu saat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas
unta, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminumnya. [HR. al-Bukhâri no.
1887 dan Muslim no. 1123]
Tidak berpuasa selama di Arafah karena itu lebih mendukung
ibadah dan amalan selama di sana.
Wukuf di arafah merupakan pertemuan akbar umat Islam dalam
ibadah mereka. Hal ini mengingatkan kita akan hari dikumpulkannya seluruh
makhluk lintas zaman dan generasi di Padang Mahsyar. Mengingat hal ini,
hendaknya setiap Muslim menyiapkan dirinya untuk menyambut kedatangan hari itu
dengan amal shaleh.[8]
8. Hendaknya para jamaah haji memanfaatkan waktu sangat
berharga di Arafah ini, yang hanya beberapa jam dengan banyak bertalbiyah,
berdzikir dan sungguh-sungguh berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat.
Seperti telah dijelaskan dalam pembahasan keutamaan hari
Arafah, doa pada hari ini adalah sebaik-baik doa, dan sebaik-baik doa yang
dipanjatkan hari itu adalah :
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ
وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Tiada ilah yang diibadahi dengan haq kecuali Allâh, hanya
Dia, tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya kekuasan dan pujian, dan Dia Maha
Berkuasa atas segala sesuatu.
Karena ini adalah doa terbaik, jamaah haji harus
menghafalnya, lalu sebanyak dan sekhusyu’ mungkin mengucapkannya selama wukuf.
Teladanilah kesungguhan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam berdoa sebagaimana digambarkan Usâmah bin Zaid Radhiyallahu anhu ketika
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
كُنْتُ رَدِيْفَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِعَرَفاَتٍ، فَرَفَعَ
يَدَيْهِ يَدْعُوْ، فَمَالَتْ بِهِ نَاقَتُهُ، فَسَقَطَ خِطَامُهَا، فَتَنَاوَلَ الْخِطَامَ
بِإِحْدَى يَدَيْهِ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَهُ اْلأُخْرَى
Aku dibonceng Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah,
maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdoa. Unta beliau miring, dan jatuhlah
tali kekangnya, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil tali kekang
itu dengan salah satu tangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sementara
tangan yang satu lagi tetap tengadah berdoa. [HR. an-Nasâi no. 3011, dihukumi
shahih oleh al-Albâni]
Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam berdoa sendiri dan tidak mengumpulkan para sahabat untuk berdoa bersama,
maka petunjuk beliaulah yang paling pantas diikuti. [9]
Tidak ada doa khusus untuk hari Arafah, dan jamaah haji bisa
berdoa apa saja untuk kebaikan akhirat dan dunia. Tapi hendaknya mengutamakan
doa-doa dari al-Qur’ân dan sunnah yang shahih, karena doa-doa seperti ini
merupakan jawâmi’ul kalim (kalimat yang pendek lafazh tapi luas makna) dan
dijamin selamat dari kesalahan.[10]
Saran saya, susunlah proposal doa anda dari jauh hari!
Kumpulkanlah doa-doa terbaik untuk dipanjatkan di waktu yang sangat berharga
ini, agar anda bisa mengoptimalkan kesempatan yang belum tentu terulang dan
tidak kekurangan bekal doa di sana. Jangan lupakan orang tua, keluarga, keturunan,
dan orang-orang yang saudara cintai dalam doa terbaik ini.
Jangan sia-siakan satu menitpun dari waktu yang singkat ini
untuk hal-hal yang kurang berguna! Jika lelah atau bosan, saudara bisa selingi
dengan dzikir dan baca al-Qur’ân, atau istirahat sejenak agar bisa segar lagi.
9. Hendaknya para jamaah haji tidak keluar dari Arafah
kecuali setelah terbenam matahari, seperti petunjuk hadits Jâbir tentang sifat
wukuf Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَذَهَبَتِ الصُّفْرَةُ
قَلِيلاً حَتَّى غَابَ الْقُرْصُ
Beliau masih terus wukuf sampai matahari tenggelam, warna
kuning sedikit pergi dan bola matahari tidak kelihatan lagi. [HR. Muslim no.
1284]
10. Setelah matahari benar-benar terbenam, jamaah haji boleh
meninggalkan Arafah untuk bemalam di Muzdalifah dan menyelesaikan amalan-amalan
haji selanjutnya.
Demikianlah rangkaian amalan yang disyariatkan untuk
dilakukan oleh jamaah haji selama di Arafah. Jika kita melakukannya dengan
ikhlas dan mengikuti petunjuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
di sini dan di rangkaian amalan haji yang lain, insya Allâh kita akan meraih
haji yang mabrur, dosa-dosa kita diampuni dan doa-doa kita dikabulkan. Kita
akan menjadi orang yang mendapatkan barakah hari Arafah dengan terbebaskan dari
api neraka.
KESALAHAN-KESALAHAN JAMAAH HAJI SELAMA DI ARAFAH
Meski memiliki keistimewaan yang sangat besar, masih banyak
umat Islam yang tidak menghargai keistimewaan ini. Sungguh ironis, masih banyak
jamaah haji yang jatuh dalam kesalahan-kesalahan fatal saat beribadah di
Arafah. Kesalahan-kesalahan ini disebabkan kekurangan ilmu, kurang motivasi
dalam beramal atau sikap tidak peduli. Para jamaah haji perlu mengetahui
kesalahan-kesalahan ini agar bisa menghindarinya dan bersyukur atas nikmat ilmu
dan cinta sunnah yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan.
Di antara kesalahan-kesalahan yang sering terjadi selama
wukuf di Arafah adalah sebagai berikut :
1. Wukuf di luar wilayah Arafah. Saat melakukan patroli,
para dai dari Kementrian Agama Arab Saudi masih banyak menemukan jamaah haji
yang melakukan wukuf di luar Arafah. Padahal kesalahan ini jika tidak
diluruskan mengakibatkan haji kita tidak sah.[11]
2. Keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam. Wukuf
adalah rukun haji, sedangkan melakukan wukuf hingga matahari terbenam adalah
salah satu kewajiban haji. Jika jamaah haji sudah keluar dari Arafah sebelum
matahari terbenam dan tidak kembali lagi, maka ia telah meninggalkan salah satu
kewajiban haji dan harus membayar dam dengan meyembelih seekor kambing.[12]
3. Menyibukkan diri dengan naik Jabal Rahmat,
berjalan-jalan, atau menuliskan prasasti di sana. Nabi kita Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mendaki gunung ini saat wukuf. Jadi
barang siapa mendaki gunung dan meyakininya sebagai ibadah, maka itu adalah
bid’ah. Jika menaikinya sebagai refreshing, maka hukumnya boleh, tetapi ada hal
lain yang lebih baik dilakukan di kesempatan yang belum tentu terulang ini.[13]
Imamul Haramain al-Juwaini mengatakan, “Dan tidak ada nilai ibadah dalam menaiki
gunung ini, meski orang-orang biasa melakukannya.” [14]
4. Menghadap ke Jabal Rahmat saat dzikir dan doa dan
membelakangi kiblat. Yang sesuai dengan sunnah adalah menghadap ke kiblat saat
berdoa, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Jâbir Radhiyallahu anhu :
ثُمَّ رَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى أَتَى
الْمَوْقِفَ فَجَعَلَ بَطْنَ نَاقَتِهِ الْقَصْوَاءِ إِلَى الصَّخَرَاتِ وَجَعَلَ حَبْلَ
الْمُشَاةِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ
Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat
hingga tiba di tempat wukuf, maka beliau jadikan perut unta beliau al-Qashwa di
bebatuan (di belakang Jabal Rahmat), menjadikan rombongan pejalan kaki di depan
beliau dan menghadap kiblat. [HR. Muslim no. 1284]
Saat wukuf, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap
Jabal Rahmat, tapi pada saat yang sama beliau juga menghadap kiblat. Beliau
menjadikan Jabal Rahmat dan Ka’bah di arah depan beliau. Jika keduanya tidak
bisa digabungkan, maka yang diutamakan adalah menghadap kiblat, bukan gunung.
5. Tidak mengoptimalkan dzikir dan doa, tapi malah banyak
ngobrol dan bercanda. Hal ini sangat disayangkan, mengingat keistimewaan hari
Arafah dan singkatnya waktu wukuf. Saat Anda menempati tempat wukuf Anda,
ingatlah bahwa ada jutaan umat Islam yang menginginkan tempat itu, namun mereka
tidak bisa mendapatkannya karena tidak memiliki biaya, tidak memiliki kondisi
fisik yang memungkinkan, atau sebab lain. Dan Andalah yang dipilih Allâh, maka
jangan sia-siakan kesempatan emas ini dengan obrolan dan canda tawa!
6. Menyibukkan diri dengan berfoto ria selama di Arafah.
Terlepas dari perselisihan para Ulama dalam masalah hukum foto makhluk
bernyawa, foto-foto ini bisa menjadi pintu masuk setan untuk menjerumuskan Anda
ke dalam kubangan riya’ (beramal agar dilihat dan dipuji orang lain) yang
membuat ibadah haji Anda sia-sia. Sebisa mungkin tutuplah ibadah mulia ini dari
pandangan manusia, sehingga hanya Allâh Azza wa Jalla yang tahu, karena hanya
dari-Nyalah kita mengharap pahala.
7. Merokok. Kebiasaan buruk ini sayang sekali masih kadang
dilakukan jamaah haji saat menjalankan rukun terpenting ibadah haji.
8. Menghibur diri atau mencari kekhusyu’an dengan alunan
musik.
9. Bersolek. Agama kita melarang wanita bersolek saat keluar
rumah. Larangan ini menjadi lebih tegas jika dilakukan saat menjalankan ibadah
haji dan berada di tanah suci. Demikian pula dengan dua kesalahan yang
sebelumnya. Jika kita melakukannya, masihkah kita berharap haji mabrur,
sedangkan syaratnya adalah meninggalkan kefasikan dan maksiat selama
menjalankan ibadah ini ?
Itulah beberapa contoh kesalahan yang sering terjadi selama
di Arafah. Masih banyak lagi kesalahan yang lain yang harus dihindari jamaah
haji, namun apa yang disebutkan di atas cukup sebagai isyarat kepada
kesalahan-kesalahan yang lain. Akhirnya kita berdoa, semoga Allâh menunjukkah
kebenaran sebagai kebenaran dan kita bisa mengikutinya. Dan semoga Allâh
menunjukkan kesalahan sebagai kesalahan dan kita bisa meninggalkannya. Sungguh
Dialah Yang Maha Mendengar, Dialah harapan kita, dan cukuplah Dia bagi kita.
Wallahu A’lam.
Referensi:
1. Asy-Syarhul Mumti’, Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimin, Dar
Ibnil Jauzi.
2. Al-Mughni, Ibnu Qudâmah, Dar ‘Alamil Kutub.
3. Tabshîrun Nasîk bi Ahkâmil Manâsik, Syaikh Abdul Muhsin
al-‘Abbâd.
4. Syarah Shahih Muslim, an-Nawawi, Darul Khair.
5. Nihâyatul Mathlab fi Dirâyatil Madzhab, Imamul haramain
al-Juwaini, Darul Minhaj.
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun
XV/1432H/2011M, Penulis Ustadz Muslim Al-Atsari. Penebit Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo –Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo – Solo
57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi 3/477.
[2]. Al-Fatâwa al-Kubrâ 2/477.
[3]. Lihat al-Mufhim (Syarah Shahih Muslim), 5/178.
[4]. Lihat al-Fathur Rabbâni karya as- Sa’ati 2/23, Tuhfatul
Ahwadzi 3/540.
[5]. Lihat Nihâyatul Mathlab 4/310.
[6]. Lihat Nihâyatul Mathlab 4/311.
[7]. Lihat Nihâyatul Mathlab 3/313.
[8]. Lihat Tabshîrun Nasîk, hlm. 121.
[9]. Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 7/296.
[10]. Tabshîrun Nasîk, hlm.123
[11]. Lihat Nihâyatul Mathlab 4/310
[12]. Lihat Nihâyatul Mathlab 4/311.
[13]. Lihat asy-Syarhul Mumti’ 7/294.
[14]. Nihâyatul Mathlab 4/311.
Sumber:
https://almanhaj.or.id

No comments:
Post a Comment