Trending Topik Indonesia

Portal Trending Topik Indonesia

Showing posts with label G30S PKI. Show all posts
Showing posts with label G30S PKI. Show all posts

Saturday, September 30, 2017

Dugaan bahwa Soeharto adalah dalang G30S/PKI sebenarnya baru mencuat pasca lengsernya Soeharto dari singgasana kekuasaannya. Karena semua orang tahu kalau pada saat Soeharto masih berkuasa, jangankan menduga-duga, omong-omong soal PKI saja orang takut.
Pertanyaannya, kenapa hingga hari ini orang masih menduga, bahkan yang menuduh bahwa Soeharto adalah dalang peristiwa jahanam itu? Lalu, apakah Soeharto merupakan dalang G30S/PKI?  
Pertanyaan tersebut masih tersimpan juga dalam kegelapan sejarah. Dugaan atau tuduhan kepada Soeharto masih juga tak terjawab, sebagaimana halnya dugaan terhadap Soekarno sebagai otak di balik G30S/PKI.
Tuduhan yang paling empuk, iya Letkol Untung yang kini sudah jadi tanah dalam sejarah Republik ini. Dan anak-anak DN Aidit Untung hingga kini masih kena stigma yang memilukan itu. Bahkan, anak-anak Pak Harto juga belum benar-benar merasa nyaman dengan tragedi. Mau bagaimana lagi, karena semua sudah menjadi sejarah yang sulit dilupakan.
Paparan di bawah ini lebih merupakan cerita versi Pak Harto yang dikisahkan dan dikutip berbagai media yang kini berseliweran di mana-mana. Sebagai warna-warni demokrasi, semua seperti bebas menduga, dan bebas menulis, apa saja yang diinginkannya. 
Paparan di bawah ini lebih pada penyaringan atau disarikan dari ochasaja.blogspot, sebagamana sebagiannya sudah dipaparkan sebelumnya dengan judul, Kenapa Soeharto Diduga sebagai Dalang G30S/PKI.
Soeharto menuturkan, bahwa, pada malam tanggal 30 September pukul 21.00 Soeharto beserta Ibu Tien sedang berada di Rumah Sakit Gatot Subroto untuk menengok anak bungsunya, Tomy Soeharto yang tersiram air panas. Kira-kira pukul 22.00 Soeharto sempat menyaksikan Kolonel Latief berjalan di depan zaal dimana Tomy dirawat. 
Pada pukul 00.15 Soeharto meninggalkan rumah sakit. Kira-kira pukul setengah lima pagi tanggal 1 Oktober, ia kedatangan seorang kameraman TVRI bernama Hamid. Hamid memberi tahu bahwa ia mendengar suara tembakan di beberapa tempat. Tetangga nya juga mengabarkan mendengar suara tembakan bertubi-tubi. 
Kemudian datang Broto Kusmardjo dan melaporkan kabar yang ia akui cukup mengagetkan yaitu mengenai penculikan beberapa Pati Angkatan Darat. Pukul enam pagi Letkol Sadjiman datang atas perintah Umar Wirahadikusumah. Ia melaporkan bahwa di sekitar Monas dan Istana banyak pasukan yang tidaj dikenalnya. 
Soeharto pun langsung bertolak menuju Markas Kostrad. Saat ia melewati Monas, ia mengaku melihat sendiri prajurit-prajurit yang berjaga di sekitar Monas. Di gedung Kostrad ia mendapat Laporan bahwa Bung Karno tidak jadi ke istana, tetapi langsung menuju Halim. 
Hal ini dapat kita lihat pada ulasan sebelumnya di Netralnews tentang apa yang dilakukan Soekarno di malam G30S/PKI, sesuai dengan penuturan Soeparto, pengawal sekaligus sopir pribadi Soekarno.
Pukul 07.00, Soeharto mendengarkan siaran RRI yang menyiarkan Gerakan 30 September yang dipimpin oleh Letkol Untung. Pada saat itu ia mengaku kaget dan lansung teringat bahwa Letkol Untung adalah orang yang dekat dan sering melakukan rapat dengan PKI. Bahkan menurutnya Letkol Untung pernah menjadi didikan tokoh PKI, Alimin.
Pada saat itu Soeharto langsung mengambil tindakan pertama yaitu menyelamatkan batalyon yang dilibatkan dalam petualangan oleh Letkol Untung. Pada saat itu Letkol Alo Murtopo dan Brigjen Sabirin Mochtar melapor pada Soeharto bahwa Danyon 454 dan Danyon 530 tidak ada di tempat.
 Kemudian ia memerintahkan Letkol Ali Murtopo dan Brigjen Sabirin untuk menyuruh Wadanyon 454 dan 530 menghadap padanya. Setelah Wadanyon-wadanyon tersebut datang, Soeharto menanyai apa tugas mereka. Nyaris serempak mereka menjawab mereka bertugas mengamankan presiden karena akan ada kup dari Dewan Jenderal. 
Soeharto sedikit kaget mendengar kata ’kup Dewan Jenderal’. Kemudian ia memberikan keterangan pada Letkol Ali Murtopo dan Brigjen Sabirin bahwa pada saat itu Presiden Soekarno tidak berada di istana. Selain itu ia menegaskan bahwa tidak ada Dewan Jenderal. Yang ada adalah Wanjakti dan tidak mungkin ada rencana kup karena ia sendiri adalah anggota Wanjakti.
 Ia yakin gerakan Letkol Untung didalangi oleh PKI. Ia menganggap hal ini sebagai sebuah pemberontakan. Maka ia memutuskan untuk menghadapinya. Kemudian ia memerintahkan kedua Wadanyon untuk menyampaikan sarannya kepada seluruh anggota kesatuan mereka serta kepada komandan batalyon mereka. Dengan demikian Soeharto telah melucuti kekuatan Untung secara halus.
Pukul 09.15 ia mengadakan rapat staff. Dalam rapat itu ia memberikan penjelasan mengenai situasi dan siaran RRI pukul tujuh pagi itu. Ia menegaskan bahwa ia mengenal benar Letkol  Aidit Untung. 
Ia menjelaskan pikirannya mengenai pernyataan Letkol Untung bahwa gerakannya seolah-olah hanya untuk menghadapi apa yang dikatakan Dewan Jenderal yang akan mengadakan kup sehingga mereka mendahului bertindak dengan menculik para pimpinan Angkatan Darat. 
Menurutnya hal ini bukan sekedar gerakan untuk menghadapi apa yang dinamakan Dewan Jenderal saja, melainkan lebih jauh untuk merebut kekuasaan negara secara paksa. Soeharto juga mengungkapkan pada para asistennya bahwa sebagai prajurit Sapta Marga seharusnya tidak hanya sekedar mencari keadilan tetapi juga seharusnya merasa terpanggil untuk menghadapi masalah ini karena yang terancam adalah negara dan Pancasila. 
Di akhir keterangannya ia memutuskan untuk melawannya. Ia berpendapat bahwa apabila tidak melawan ataupun menghadapinya, toh mereka akan mati konyol. Jadi akan lebih baik apabila mereka mati membela negara dan Pancasila.
Setelah Maghrib satuan RPKAD berangkat menyerang RRI dan TELKOM dipimpin Kapten RPKAD Heru dan Kapten Urip. Sementara Kolonel Sarwo Edhie menunggu di halaman Kostrad. Pasukan tersebut memasuki RRI dan gedung pusat TELKOM tanpa perlawanan. 
Menurut perkiraannya Anak buah Letkol Untung telah melarikan diri. Setengah jam kemudian Kolonel Sarwo Edhie menerima laporan radio bahwa RRI sepenuhnya telah dikuasai. Gedung TELKOM waktu itu dijaga oleh Pemuda Rakyat yang mengira bahwa pasukan yang datang adalah rekannya sesama pemberontak sehingga dengan mudah Pemuda Rakyat itu dapat dilucuti senjatanya.
Soeharto merasa cukup lega karena tidak sebutir peluru pun dilepaskan. Lalu Brigjen Ibnu Subroto dengan beberapa orang menuju RRI dengan membawa rekaman pidato Soeharto . 
Pidato tersebut berisi tentang penjelasan peristiwa G/30/S dan himbauan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan waspada. Lewat pidato itu pula ia menjelaskan bahwa ia adalah Pimpinan Sementara Angkatan Darat. Pada pukul tujuh tepat siaran pidato tersebut dikumandangkan.


Sebelum Soekarno menjadi Presiden RI dan bahkan sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan, sudah dibentuk Polisi Istimewa (Tokubetsu Keisatsu Tai) yang bertugas mengawal presiden.
Di wilayah Jakarta Raya, nama kesatuan Polisi Istimewa disebut “Polisi Macan” di bawah pimpinan Gatot Suwiryo.
Menurut sumber dari buku Maulwi Saelan Penjaga Terakhir Soekarno, pada tahun 1945 Gatot memindahkan anggota Polisi Macan ke Pasukan Pengawal Pribadi Presiden (Tokomu Kosaku Tai) di bawah pimpinan Mangil Martowidjojo dan bermarkas di Kantor Pusat Kementerian Negara sekaligus asrama di Gedung Kementerian Dalam Negeri (kini Jl Veteran) di bawah pimpinan Raden Said Soekanto.
Tugas-tugas Pasukan Pengawal Pribadi Presiden itu antara lain mengamankan perayaan Proklamasi Kemerdekaan RI 17/8/1945, membantu pengamanan Rapat Raksasa di Lapangan Ikada pada bulan September 1945, mengawal rombongan Presiden dan Wakil Presiden dalam perjalanan secara rahasia menggunakan kereta api dari Jakarta menuju Yogyakarta pada 3 Januari 1946.
Sejak keberhasilan mengungsikan rombongan Presiden dan Wapres ke Yogyakarta itu, Said Soekanto pada tahun 1947 membentuk kesatuan khusus bernama Pasukan Pengawal Presiden (PPP) dan dikomandani oleh Mangil.
Tugas utama PPP adalah menjaga keselamatan pribadi Presiden dan Wakil Presiden beserta seluruh anggota keluarganya.
Hingga tahun 1962 meskipun Presiden Soekarno telah mendapat pengawalan dari PPP, upaya pembunuhan terhadap diri Presdien tetap terjadi.
Berdasar peristiwa yang mengancam jiwa Presiden Soekarno itu, ajudan Presiden, Letkol CPM Sabur, menghadap ke Istana Merdeka untuk menyampaikan laporan bahwa Departemen Pertahanan dan Keamanan berencana membentuk Pasukan Pengawal Istana Presiden (PPIP) yang lebih sempurna.
Tokoh yang ingin membentuk pasukan pengawal Istana Presiden itu adalah Jenderal AH Nasution tapi Presiden Soekarno ternyata menolaknya.
Pasalnya Mangil saat itu sudah membentuk Detasemen Kawal Pribadi (DKP) dan dirasa oleh Presiden Soekarno sudah cukup untuk mengawalnya.
Namun, Letkol Sabur tetap mendesak Presiden Soekarno untuk membentuk PPIP dan akhirnya ternyata berhasil.
Presiden Soekarno bahkan menunjuk Letkol Sabur sebagai komandan PPIP dan dipercaya mencari anggota PPIP yang berasal dari semua angkatan (AU, AD, AL, dan Kepolisian).
Pada 6 Juni 1962 PPIP yang dinamai Cakabirawa pun diresmikan oleh Presiden Soekarno dan dikomandani oleh Sabur yang sudah mendapat kenaikkan pangkat sebagai Brigjen dan Wakil Komandannya adalah Kolonel Maulwi Saelan.
Cakrabirawa dalam dunia pewayangan merupakan senjata pamungkas milik Prabu Kresna yang jika dilepaskan bisa menyebabkan malapetaka yang dahsyat bagi musuhnya.
Menurut Soekarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, pasukan Cakrabirawa berkekuatan 3000 personel yang berasal dari keempat Angkatan Bersenjata.
Setiap anggota Cakrabirawa berasal dari pasukan yang andal.
Umumnya mereka berlatar belakang pejuang gerilya yang menonjol.
Mereka direkrut dari bekas pasukan Raider Angkatan Darat, Korps Komando (KKO) Angkatan Laut, Pasukan Gerak Tjepat (PGT) Angkatan Udara, dan Brigade Mobil diberi nama Batalyon KK (Kawal Kehomatan), dengan nomer urut I sampai IV.
Batalyon I dan II bertugas di Jakarta dan Batalyon III dan IV menjaga Istana Bogor, Cipanas (Cianjur), Yogyakarta, dan Tampaksiring (Bali).
Karena penugasan tersebut, Markas Batalyon I KK berada di Jalan Tanah Abang (kini Markas Paspampres) dan Batalyon II menempati asrama Kwini (sekarang ditempati Marinir angkatan Laut).
Batalyon I KK berasal dari satu batalyon Angkatan Darat dipimpin oleh Mayor Eli Ebram.
Ia hanya menjabat satu tahun lebih, kemudian naik pangkat menjadi Letkol.
Eli Ebram kemudian diganti oleh Letkol Untung, pindahan dari Kodam VII/Diponegoro, Jawa Tengah.
Batalyon II KK eks Pasukan KKO Angkatan Laut dipimpin oleh Mayor KKO Saminu, yang naik pangkat menjadi Letkol KKO.
Batalyon III KK dari PGT Angkatan Udara dipimpin oleh Mayor PGT.
Dan, Batalyon IV KK dari Brimob Angkatan Kepolisian dipimpin oleh Komisaris Polisi M Satoto, yang naik pangkat menjadi ajun komisaris besar polisi (Letkol Polisi RI).
Dalam gerakan G-30-S-PKI 1965, Letkol Untung dan satu peleton Cakrabirawa dari Batalyon I KK pimpinan Lettu Dul Arif, merupakan motor utama dalam aksi penculikan dan pembunuhan 7 Jenderal Pahlawan Revolusi.
Akibat aksi Letkol Untung dan peleton pimpinan Lettu Dul Arif itulah nama Cakrabirawa pun tercoreng dan oleh pemerintah Orde Baru semua anggota Cakrabirawa dianggap sebagai pendukung PKI.
Pasukan Cakrabirawa pun dibubarkan pada 28 Maret 1966, para petinggi dan personel pasukan Cakrabirawa pun banyak yang ditangkap dan dipenjarakan tanpa melalui proses pengadilan.
Pengamanan terhadap Presiden dan Wapres serta keluarganya kemudian dipercayakan kepada pasukan Angkatan Darat yang selanjutnya membentuk lagi Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) di era kekuasaan Presiden Suharto.
Hari jadi Paspampres diperingati setiap tanggal 3 Januari dan penetapan hari jadi ini terkait dengan peristiwa bersejarah Pasukan Pengawal Pribadi Presiden yang sukses menyelamatkan Presiden dan Wapres serta keluarganya dari Jakarta menuju Yogyakarta pada 3 Januari 1946.
Anggota-anggota Resimen Tjakrabirawa Bersejarah
Brigadir Jendral TNI Sabur - Komandan Resimen Tjakrabirawa
Kolonel Maulwi Saelan - Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa
Letnan Kolonel Untung bin Syamsuri - Komandan Batalyon I Tjakrabirawa - Komandan Gerakan 30 September/G30S
Letnan Kolonel Ali Ebram - Staf Asisten I Intelijen Resimen Tjakrabirawa
Letnan Satu Doel Arif - Komandan Resimen Tjakrabirawa - Komandan Regu pada Gerakan 30 September/G30S yang membunuh Jendral-Jendral TNI-AD (Pasukan Pasopati Gerakan 30 September/G30S)
Pembantu Letnan Dua Djahurub - Prajurit Resimen Tjakrabirwa - Bergabung dengan pasukan LETTU Doel Arif dan menyerang dan membunuh Jendral A H Nasution (lolos)
Sersan Satu Marinir Hadiwinarto P Soeradi (NRP 37265) - Prajurit Resimen Tjakrabirwa.